Pak Menteri Pariwisata Yang Terhormat
Tahun 2008 digembar-gemborkan sebagai VISIT INDONESIA YEAR 2008, sebagai tahun kunjungan Indonesia dengan tujuan untuk menarik calon tourist untuk datang berkunjung ke Indonesia sebanyak-banyaknya, sehingga di masa mendatang angka kunjungan ke Indonesia akan dapat menyamai angka kunjungan di negara-negara tetangga. Indonesia mampu bersaing di pasaran pariwisata dunia sampai sepuluh tahun mendatang dengan potensi-potensi obyek wisata yang tidak dimiliki oleh negara lain, sehingga tourism di Indonesia akan menjadi sumbrt devisa yang sangat penting bagi Indonesia
Ide ini memang ide yang brilian sehingga yang perlu didukung seluruh lapisan masyarakat baik birokrator ataupun masyarakat biasa tentunya.
Akan tetapi, pada kenyataan dilapangan masih sangat banyak penghambat yang perlu disingkirkan, ada pihak-pihak yang bukan saja tidak mendukung tetapi juga menghambat laju kampaye Visit Indonesia Year yang selalu ditulis di mana saja, seperti di hotel, di jalan, di sana-sini.
Mungkin pak Menteri Pariwisata kurang lengkap mempromosikan kampanye ini, dengan bahasa yang konotatif terlalu tinggi dengan sasaran orang asing saja sehingga hanya ditulis dengan bahasa Inggris saja, padahal hampir 90% penduduk Indonesia buta bahasa Inggris sehingga walaupun Spanduk Jelas ada di mana-mana mengakibatkan dukungan dari masyarakat masih sangat minim, karena masyarakat beranggapan itu hanya untuk orang asing, bukan orang lokal.
Bom Bali jelas sangat merusak citra pariwisata sehingga pariwisata di Indonesia mengalami keterpurukan yang mengakibatkan trauma yang berkepanjangan, akan tetapi ada yang lebih parah yang dapat merusak citra pariwista di Indonesia secara halus yang bukan berasal dari teroris itu sendiri akan tetapi berasal dari aparatur pemerintah sendiri. It make very bad reputation for tourism in Indonesia !!
Contoh kasus untuk wilayah Jawa Barat, Bandung khususnya:
Setiap private minibus yang berupa Suzuki APV, Mitshubishi L300, Izusu Elf, dan lain sebagainya dengan plat nomer Bandung atau tidak, memasuki kota Bandung, diketahui membawa orang bule atau tourist, akan selalu menjadi sasaran oknum kepolisian, dan oknum DLLAJR di kota Bandung Mereka akan mengejar dan menangkap dan mengancam akan mengkandangkan kendaraan, mencari-cari kesalahan, denda yang fantastis tinggi.
Yang tersebut di atas bukanlah tindakan brilliant yang mendukung tourism di Indonesia, Bandung khususnya , akan tetapi tindakan kontra VISIT INDONESIA YEAR 2008 dan kampaye tahun-tahun mendatang, bagaimana tidak di depan tourist yang nota bene membawa devisa buat negara dan memberi pekerjaan untuk orang lokal, dibuat tidak nyaman dan ketakutan, seakan-akan membawa mereka adalah tindakan kejahatan di Indonesia. Berkunjung ke Indonesia seharusnya tidak seperti berkunjung ke Korea Utara di mana setiap orang akan diawasi oleh agent spion. Orang tertarik berkunjung ke Indonesia karena “katanya” alamnya cantik, indah penduduknya ramah tamah, sumringah, dan baik hati, akan tetapi baru keluar ibu kota Indonesia lewat Bandung sudah menjadi sasaran empuk oknum.
Bagaimana Indonesia dapat bersaing dengan negara CHINA yang katanya negara Komunis, akan tetapi tourist merasa lebih aman dan nyaman, Nah kalau oknum DLLAJR dan Polisi selalu menguntit untuk mencari-cari kesalahan, walau seharusnya mereka punya tanggung jawab untuk membina dan melindungi masyarakat untuk mendukung VISIT INDONESIA YEAR 2008, bagaimana dapat berkembang.
TRAVEL WARNING bagi pemegang Otonomi Pariwista Jawa Barat dan khususnya Bandung, diharapkan mengetaui bahwa untuk mengajak orang asing datang ke Bandung bukan perkara sepele, tidak dapat dikatakan mereka akan datang sendiri. Dengan teknologi IT saat ini promosi wisata kota Bandung dapat tidak belaku sama sekali, dengan peredaran informasi yang sangat cepat ke seluruh dunia tanpa batas maka reputasi Bandung dapat menjadi baik ataupun buruk tergantung pilihan pihak otonomi pariwisata untuk membenahi citra pariwisata atau membiarkan virus atau penyakit yang menggerogoti tersebut di atas menjalar ke kota-kota lain di Jawa Barat yang pada akhirnya mengakibatkan kita akan menulis ARTIKEL atas ketidaknyamanan tourist ketika berkunjung ke Bandung dengan bahasa Inggris sebagai berikut:
Travel warning tourism in Indonesia “WEST JAVA AND BANDUNG IS NOT RECOMMENDED TOUR DESTINATION IN INDONESIA. . . . . .” (isilah titik-titik ini dengan kalimat yang anda inginkan !)
Bagaimana kalua tulisan itu di-index oleh Google dan Yahoo, bukankah orang-oramg pencari informasi yang seharusnya berkunjung ke Bandung jadi tidak tertarik untuk datang ke Bandung, hanya dengan sebuah tindakan bodoh satu atau dua oknum aparat pemerintah yang tidak tahu membaca dan menyimak tulisan “WELCOME TO BANDUNG VISIT INDONESIA YEAR 2008”, uang ratusan milyar rupiah tidak jadi di balanjakan di Bandung, bukankah itu sebuah kerugian ?
Patut dibedakan yang dimaksud travel yang mengangkut orang lokal antar kota dengan travel yang mengangkut tourist asing. Travel yang mengangkut orang kita memang tidak banyak kontribusinya, akan tetapi yang mengangkut tourist asing ke atau hanya lewat ke Bandung membawa ratusan juta uang yang akan merupakan devisa untuk negara dan melihat reputasi negara Indonesia. Yang mereka kehendaki adalah hanya rent car atau bahasa Indonesianya “menyewa sebuah kendaraan pribadi” atau kalau ditulis dalam bahasa inggris adalah “rent a private car”.
Dan perlu di ketahui touris asing adalah tamu bangsa indonesia yang perlu kenyamanan dan ketenangan, sehingga apaupun harus dihormati, bukankah tourism dapat menggerakan roda perekonomian.
Perlu di pahami bahwa warning di internet jauh lebih ampuh daripada ditulis di koran-koran lokal. Kami menunggu follow up dari pemegang Otonomi Pariwisata Jawa Barat dan Bandung, sehingga tinggal menunggu kebijaksanaan pengambil keputusan untuk menghentikan tidakan yang tidak terpuji di bidang pariwisata atau membiarkannya, sampai negara terbesar di dunia maya (virtual) Yahoo dan Google akan mengindex bahwa Jawa Barat dan Bandung tidak direkomendasikan sebagai tour destination in West Java atau in Indonesia. Milyaran rupiah akan sia-sia terbuang percuma saja pak, hanya karean salah kelola.
UNLIMITEDTOURISM.WORDPRESS.COM

sedih banget yah, begitu tau bahwa “WEST JAVA AND BANDUNG IS NOT RECOMMENDED TOUR DESTINATION IN INDONESIA”.
Sangat disayangkan memang dengan kelakuan aparatur yang tidak mendukung kegiatan pariwisata, bahkan terkesan bahwa ikut “menggagalkan” aktivitas pariwisata. hal ini bertolak belakang dengan apa yang selalu pemerintah gembar gemborkan.
Hal ini sudah terjadi, lalu siapa kah yang patut disalahkan di dalam hal ini ???????
buat gubernur terpilih serta jajarannya, hal ini merupakan PR yang harus segera diatasi, karena bila tetap seperti ini, bukan tidak mungkin bahwa pariwisata akan segera mati.
Hati ku bagai di sambar petir saat membaca artikel ini, mengapa tidak…
Saya yang lahir dan besar di Bandung merasa risih dan jijik meliat tingkah laku aparat yang “kurang kerjaan” meski belum tentu kerjanya benar dan sesuai aturan.
Dulu aja bandung di gembor-2kan sebagai salah salah tujuan wisata wajib bagi orang asing yang semboyannya PARIS VAN JAVA dan BANDUNG SEBAGAI KOTA WISATA BELANJA DI INDONESIA tapi jika melihat kenyataan ini hendaknya pemerintah dgn instansi terkait harus intropeksi diri agar Bandung menjadi tempat yang nyaman bagi wisatan asing yang nota bene memberikan devisa negara lebih jelas daripada wisatawan lokal.
Semoga para oknum aparat sadar dan kembali ke jalan yang benar agar wisatawan merasa nyaman.
Buat pak Walikota Bandung, mohon kembalikan Bandung sebagai kota KEMBANG dan singkirkan julukan Bandung sebagai KOTA KAMBNG.