Dulu kita pernah mendengar berita heboh, sebuah pulau kecil di sebelah timur bali yang di-iklankan di jual, dan ada pulau pulau yang sudah di huni oleh orang bule sebagi wilayah pribadi. Lalu ada klarifikasi dari pengiklan bahwa itu hanya dijual untuk wisata untuk resort. Pemerintah setempat mengatakan tidak ada jual beli dsb
Ah itu kan bahasa halusnya, karena konangan banyak orang yang masih menghormati kedaulatan NKRI, tetapi lain cerita kalau tidak konangan pasti betul-betul dijual. Apakah tidak pernah diperhatikan bahwa indonesia itu memang benar-benar dijual?
Di Bali ada seorang teman warga setempat yang bercerita berhasil menjadi broker warga asing yang membeli sebidang tanah di Lombok denga untung milyaran rupiah. Yang menjual tanah orang miskin yang tidak tahu apa-apa, hanya petani miskin banyak anak, tanah dijual dibagi rata, hsisa naik haji sudahlan anak rukun masuk syauga. Yang menjadi broker, asal dapat duwit, tahu peluang kalau tanah yang beli sesama orang Indonesia mustahil dapat duwit sebayak itu, jadi dengan cara apapun sogok sana – sini yang penting deal, orang asing sertipikat HGB tidak masalah yang penting kan dapat diperpanjang samapi 100 tahun lebih, Yang beli tanah tahu bahwa untuk peluang bisnis tanah itu potensial , letak strategis untuk mendatangkan tamu-tamu dari negaranya, singkat kata peluangnyakebali modal sangat tinggi.
Uang-uang uuuuuuuuuuuuang, itu saja judulnya.
Setelah diatas tanah di bangun sebuah hotel kecil dengan embel-embel resort, harganya tentu tidak murah harga sewa saja ditawarkan diatas US $ 100 , sang pemilik akan jadi raja di istana kecilnya, sementara dayang dan punggawanya adalah orang lokal, dan merasa mempunyai hak di istana, perbuatan semena-mena mulai diterapkan. Penulis pernah bercerita tantang pemilik resort seorang wanita warga italia di jawa tengah, yang menceritakan bahwa selama dia berada di resort semua karyawan stress karena harus selalu memuruti perintah pemilik, sampai -ampai daun yang jatuh pun harus dilaporkan, belum lagi suami si bos itu senang memerintah dengan”mentheng kelek”. Ini adalah gambaran yang terjadi didalam resort milik orang asing.
Patut disayangkan penjualan tanah ke warga negara asing oleh maklar lokal akan menyebabkan kehormatan kita di mata bule terijak-injak. Patut disayangkan birokrat juga tidak tanggap, mentang-mentang yang berkuasa saat ini tidak mengalami perang kemerdekaan sehingga tidak sensitif dengan masalah ini.
