Komponen pariwisata yang ada adalah travel biro, hotel, transport, artshop, restaurant dan yang terakhir adalah tour guide. Menjelang musim panas adalah musim panas yang merupakan massa liburan Eropa sehingga angka kedatangan tourist di Yogyakarta akan meningkat. Juni – Agustus adalah masa di mana angka kedatangan tourits di Yoogyakarta meningkat.
Pada Juni – Agustus , masa itu adalah high session dimana banyak request room hotel akan tetapi jumlah room hotel konstant artinya jumlah permintaan besar namun jumlah room akan tetap seperti biasanya, sehingga hotel memanfaatkan situasi untuk mendapatkan untung lebih yakni dengan memperlakukan
1.extra charge policy,
2.dinner compulsory dimana harga room hotel akan ditambah 10-25 % dari harga room normal.
Itu juga berlaku untuk travel biro yang akan kebanjiran akan request tour service. Masa itu juga merupakan masa panen bagi pedagang asongan dan artshop, omset pembelian akan naik menjadi 500%.
Akan tetapi masa panen itu tidak berlaku bagi Tour guide, sebab pada masa itu, yang ada hanya jumlah jumlah hari kerja yang semakin tak bercelah, sehingga dalam waktu 1 bulan seorang tour guide dapat bekerja 30 hari, dan selama musim panen tourist selama 2 bulan itu tour guide akan hanya dapat bekerja selamal 50 hari kerja.
Berapakah pendapatan Tour guide selama musim itu, marilah kita kalkulasi:
Hari kerja super guide (guide yang tidak pernah lelah jiwa dan raga), selama musim tourist 2 bulan adalah 50 hari kerja, kerja terus menerus overland, sampi kondor dan impoten, tour guide hanya akan mendapatkan maximal 50x 150.000= Rp 7.500.000 kotor, masih dikurangi makan untuk supir (makan untuk sopir seharusnya adalah kewajiban pemilik transport, akan tetapi karena guidenya apikan, sehingga walaupun akan tombok, logistik sopirpun akan ditanggung juga, karean apabila tidak tour guidebaik hati tour guide akan dicap pelit dan akan diturunkan dijalan atau malah tidak diturunkan sama sekali selama perjalanan dari Denpasar ke Yogyakarta selama 20 jam.
Karena kebaikan guide pun quotation tour jatuhnya akan dapat dihemat 15%, karena ongkos transport dapat ditekan lebih rendah, artinya uang makan sopir walau hanya Rp 10.000 perhari, tidak akan protes karena sisanya dibayar oleh tour guide yang bersamanya. Angka tersebut akan berubah menjadi sedikit ketika seorang guide bekerja hanya untuk tour lokal Yogyakarta, karena fee dihitung hanya berdasarkan durasi perjam, dan antara travel biro satu dengan yang lain tidak sama (banyak yang masih membayar Rp 8500, karena dihitung juga dengan jumlah komisi dan tip yang kan didapatkan oleh Tour guide).
Disini hanya dihitung fee, yang merupakan hasil kerja formal, hasil sampingam seperti tip, komisi, dan sisa expend, tidak dapat dihitung sebagai pendapatan karena, itu bukan merupakan pendapatan yang nyata (boleh dihitung bonus dari Tuhan !). Dalam menjalankan tugasnya seorang tour guide tentu tidak dapat berkerja berkali-kali dalam sehari, artinya ketika melakukan jasa pemanduan dengan seorang tamu, dia tidak dapat bekerja untuk lain orang untuk hari yang sama sehingga rasionya adalah 1 group/couple : 1 hari: 1 guide.
Ini berbeda pendapatan hotel atau travel biro karena pada masa itu adalah panen untuk mendapatkan untung dari banyak orang, sehingga dalam sehari mendapatkan untung dari 100 orang, 1000 orang bahkan lebih. denga ratio: . . . .: 1 hari : 1 hotel/travel biro.
Mengingat nilai pendatan tour guide selama musim panen tourist terbatas berdasarkan kalkulasi di atas, adala hal yang sangat logis dan reasonable apabila seorang guide selama high session memperlakukan guide fee dengan extra charge, seperti yang berlaku untuk hotel selama high session, karena dengan cara inilah seorang guide dapat meningkatkan taraf hidupnya, dengan kata lain tour guide akan mendapakan manfaat dari dunia Pariwisata, karena pada masa itu pendapatan akan sedikit lebih banyak.
Kendala dari pemberlakuan sistem tersebut adalah dari kalangan guide sendiri, karena adanya ketakutan secara spsikologis. Untuk menutut extra charged guide fee pada haigh session adalah cara yang tepat karena walau bagaimanapun juga, tuntutan akan dikabulkan, akan tetapi pada musim low session, guide yang menuntut pemberlakua akan di black list oleh user, sehingga orderpun akan menghilang, dan menjadi guide yang disingkiri oleh user. Inilah hal yang menjadi beban psikologis untuk tour guide.
Untuk kelompok tour guide yang berprinsip ” pejah gesang nderek njenengan” hal itu tidak mungkin terjadi, kelopok ini berpinsip untuk jangka panjang dan untuk kelangsungan hidup walaupun pada rentang waktu kehidupannya akan hanya dihargai Rp 10.000 jam.
Berikut ini adalah grafik yang menggambarkan adanya hubungan yang signifikan antara kinerja tour guide dengan umur seseorang tour guide. Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa semakin tua seorang tour guide semakin jelek kinerjanya, dan tentunya pendapatanya semakin jelak.
Itulah mengapa posting ini dibuat karena untuk menyadarkan guide bahwa kekuatan tour guide untuk memiliki performance yang hebat adalah tidak abadi, semakin senior tour guide semakin tidak terpakai dan semakin dibuang dari peredaran, sehingga perlu memanfaatkan kesempatan ketika masih berada dipuncak untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dalam perjalanan-hidunya.
Mohon maaf dengan grafik dibawah ini kami tidak bermaksud menyinggung profesi anda sebagai guide, pengirim artikel ini bermaksud untuk mengingatkan bahwa hidup itu tidak pasti, grafiknya seperti dibawah ini, sehingga kita sadar kapan mulai mempersiapkan masa depan lebih baik.

