<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar untuk Yogyakarta/Jogja Tourism Information</title>
	<atom:link href="http://unlimitedtourism.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unlimitedtourism.wordpress.com</link>
	<description>Yogyakarta/Jogja Tourism Information</description>
	<lastBuildDate>Sun, 11 Oct 2009 09:01:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Komentar di Rewiew Dusun Village Hotel in Yogyakarta oleh jacks</title>
		<link>http://unlimitedtourism.wordpress.com/2009/08/27/rewiew-dusun-village-hotel-in-yogyakarta/#comment-28</link>
		<dc:creator>jacks</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 09:01:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://unlimitedtourism.wordpress.com/?p=450#comment-28</guid>
		<description>I like homestays when i visits country the homestay is the best way to introduce the people and culture where you stay</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>I like homestays when i visits country the homestay is the best way to introduce the people and culture where you stay</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Guide mati di lumbung pariwisata oleh Gombal mukiyo</title>
		<link>http://unlimitedtourism.wordpress.com/2009/02/14/guide-mati-di-lumbung-pariwisata/#comment-20</link>
		<dc:creator>Gombal mukiyo</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 01:00:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://unlimitedtourism.wordpress.com/?p=302#comment-20</guid>
		<description>INI SEKELUMIT FAKTA DI LAPANGAN YANG HARUS SALING MENGERTI SATU dGn yg LAIN DAN JANGAN HANYA CARI SIAPA YANG SALAH.
TAPI MENGAPA HAL INI BISA TERJADI?
(- Kutipan dari koran nasional - )

Sepekan terakhir, muncul pertentangan antara pemandu wisata DI Yogyakarta (DIY) dan pemandu lokal Borobudur. Pertentangan memanas ketika Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DIY mengaku mendapat ancaman fisik dari pemandu lokal.

”Pemandu lokal menuntut pemandu Yogya mengikuti kebijakan pergantian pemandu di Candi Borobudur. Pemandu dari luar Magelang (harus) mengalihkan wisatawan kepada pemandu lokal,” kata Bagus Ardhi Baliantoro, Ketua Asita DIY, dan M Hardi Wahyono, Ketua HPI DIY beberapa waktu lalu.

Penyulut pertentangan, ujar Bagus, adalah Peraturan Daerah Pemerintah Kabupaten Magelang Nomor 17 Tahun 2002, dan dipertajam lagi oleh Surat Edaran Dinas Pariwisata setempat, yang intinya mengharuskan pemandu luar Magelang mengalihkan pelayanan turis kepada pemandu lokal.

Di tengah-tengah kecenderungan turunnya kunjungan wisatawan mancanegara, dan otomatis turunnya pemandu yang beroperasi di Yogyakarta, Hardi Wahyono menilai ”kebijakan Magelang” itu memberatkan. ”Dari 400-an pemandu anggota HPI DIY, yang beroperasi saat ini sekitar 80 orang,” kata Hardi.

Faktanya jelas, pelaku pariwisata DIY lebih gencar mempromosikan Candi Borobudur kepada dunia internasional. Menurut data PT Taman Wisata Candi Borobudur, sekitar 40 persen wisatawan Candi Borobudur, datang melalui biro wisata DIY.

Gendro Wiyono, Direktur Administrasi dan Keuangan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Ratu Boko, dan Prambanan, menambahkan, terdapat kekhawatiran turis asing ditangani pemandu yang kurang berkualitas. ”Meski sampai sekarang kami belum pernah menerima laporan pemandu lokal Borobudur tak berkualitas, Asita tetap khawatir. Makanya, pemandu DIY minta jaminan kualitas pemandu di sini,” ujarnya.

Selain ancaman kekerasan fisik terhadap pemandu Yogya, penolakan Asita DIY pada aturan itu adalah prinsip dunia pariwisata tak mengenal batas.

Ironisnya, lanjut Bagus, kebijakan seperti itu justru muncul dari Pemerintah Kabupaten Magelang, dengan alasan otonomi daerah. Meski maksudnya baik, pemberdayaan masyarakat sekitar Borobudur, ”kebijakan Magelang” seharusnya dipikirkan kembali. Bukan hanya merugikan pekerja wisata lain, tetapi juga menambah citra buruk pariwisata Indonesia.

”Apalagi, kami tidak pernah diajak konsultasi soal pembuatan perda itu. Padahal, Asita dan HPI DIY juga terkait erat dengan Candi Borobudur. Mungkin, ini salah satu bentuk otonomi daerah yang kebablasan. Bicara otonomi daerah, perlu dilihat apakah kebijakan itu merugikan atau tidak, terkait dengan konteks satu pengelolaan wisata Borobudur,” kata Hardi.

Penjelasan Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Magelang Wibowo menunjukkan bahwa keluarnya surat edaran itu dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar candi yang selama ini terpinggirkan. Ia menggambarkan, kondisi sebagian masyarakat sekitar Borobudur kini belum makmur. Padahal keberadaan Borobudur sebagai situs purbakala berharga, sekaligus obyek wisata kelas dunia, punya dampak sosial ekonomi.

”Semasa saya kecil Candi Borobudur menjadi tempat berkumpul masyarakat Borobudur merayakan Lebaran. Anak-anak bermain di candi di sore hari. Tapi sekarang, kami menonton dari jauh,” ujar Jack (30), Ketua Jaringan Kerja Borobudur.

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Magelang Kelik melihat secara lain. Pertentangan antarpemandu wisata itu merupakan cara Asita DIY untuk menekan biaya perjalanan wisata. Sebab, tarif seorang pemandu lokal untuk satu paket wisata ke Candi Borobudur mencapai Rp 40.000.

”Asita sebagai pengelola dan pemilik modal tentu tidak mau rugi. Apalagi pemandu wisata di Yogyakarta pun mengerti seluk-beluk sejarah dan cerita Candi Borobudur,” ujar Kelik. (mdn/oni/art)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>INI SEKELUMIT FAKTA DI LAPANGAN YANG HARUS SALING MENGERTI SATU dGn yg LAIN DAN JANGAN HANYA CARI SIAPA YANG SALAH.<br />
TAPI MENGAPA HAL INI BISA TERJADI?<br />
(- Kutipan dari koran nasional &#8211; )</p>
<p>Sepekan terakhir, muncul pertentangan antara pemandu wisata DI Yogyakarta (DIY) dan pemandu lokal Borobudur. Pertentangan memanas ketika Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DIY mengaku mendapat ancaman fisik dari pemandu lokal.</p>
<p>”Pemandu lokal menuntut pemandu Yogya mengikuti kebijakan pergantian pemandu di Candi Borobudur. Pemandu dari luar Magelang (harus) mengalihkan wisatawan kepada pemandu lokal,” kata Bagus Ardhi Baliantoro, Ketua Asita DIY, dan M Hardi Wahyono, Ketua HPI DIY beberapa waktu lalu.</p>
<p>Penyulut pertentangan, ujar Bagus, adalah Peraturan Daerah Pemerintah Kabupaten Magelang Nomor 17 Tahun 2002, dan dipertajam lagi oleh Surat Edaran Dinas Pariwisata setempat, yang intinya mengharuskan pemandu luar Magelang mengalihkan pelayanan turis kepada pemandu lokal.</p>
<p>Di tengah-tengah kecenderungan turunnya kunjungan wisatawan mancanegara, dan otomatis turunnya pemandu yang beroperasi di Yogyakarta, Hardi Wahyono menilai ”kebijakan Magelang” itu memberatkan. ”Dari 400-an pemandu anggota HPI DIY, yang beroperasi saat ini sekitar 80 orang,” kata Hardi.</p>
<p>Faktanya jelas, pelaku pariwisata DIY lebih gencar mempromosikan Candi Borobudur kepada dunia internasional. Menurut data PT Taman Wisata Candi Borobudur, sekitar 40 persen wisatawan Candi Borobudur, datang melalui biro wisata DIY.</p>
<p>Gendro Wiyono, Direktur Administrasi dan Keuangan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Ratu Boko, dan Prambanan, menambahkan, terdapat kekhawatiran turis asing ditangani pemandu yang kurang berkualitas. ”Meski sampai sekarang kami belum pernah menerima laporan pemandu lokal Borobudur tak berkualitas, Asita tetap khawatir. Makanya, pemandu DIY minta jaminan kualitas pemandu di sini,” ujarnya.</p>
<p>Selain ancaman kekerasan fisik terhadap pemandu Yogya, penolakan Asita DIY pada aturan itu adalah prinsip dunia pariwisata tak mengenal batas.</p>
<p>Ironisnya, lanjut Bagus, kebijakan seperti itu justru muncul dari Pemerintah Kabupaten Magelang, dengan alasan otonomi daerah. Meski maksudnya baik, pemberdayaan masyarakat sekitar Borobudur, ”kebijakan Magelang” seharusnya dipikirkan kembali. Bukan hanya merugikan pekerja wisata lain, tetapi juga menambah citra buruk pariwisata Indonesia.</p>
<p>”Apalagi, kami tidak pernah diajak konsultasi soal pembuatan perda itu. Padahal, Asita dan HPI DIY juga terkait erat dengan Candi Borobudur. Mungkin, ini salah satu bentuk otonomi daerah yang kebablasan. Bicara otonomi daerah, perlu dilihat apakah kebijakan itu merugikan atau tidak, terkait dengan konteks satu pengelolaan wisata Borobudur,” kata Hardi.</p>
<p>Penjelasan Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Magelang Wibowo menunjukkan bahwa keluarnya surat edaran itu dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar candi yang selama ini terpinggirkan. Ia menggambarkan, kondisi sebagian masyarakat sekitar Borobudur kini belum makmur. Padahal keberadaan Borobudur sebagai situs purbakala berharga, sekaligus obyek wisata kelas dunia, punya dampak sosial ekonomi.</p>
<p>”Semasa saya kecil Candi Borobudur menjadi tempat berkumpul masyarakat Borobudur merayakan Lebaran. Anak-anak bermain di candi di sore hari. Tapi sekarang, kami menonton dari jauh,” ujar Jack (30), Ketua Jaringan Kerja Borobudur.</p>
<p>Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Magelang Kelik melihat secara lain. Pertentangan antarpemandu wisata itu merupakan cara Asita DIY untuk menekan biaya perjalanan wisata. Sebab, tarif seorang pemandu lokal untuk satu paket wisata ke Candi Borobudur mencapai Rp 40.000.</p>
<p>”Asita sebagai pengelola dan pemilik modal tentu tidak mau rugi. Apalagi pemandu wisata di Yogyakarta pun mengerti seluk-beluk sejarah dan cerita Candi Borobudur,” ujar Kelik. (mdn/oni/art)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Guide mati di lumbung pariwisata oleh Amien</title>
		<link>http://unlimitedtourism.wordpress.com/2009/02/14/guide-mati-di-lumbung-pariwisata/#comment-19</link>
		<dc:creator>Amien</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 01:38:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://unlimitedtourism.wordpress.com/?p=302#comment-19</guid>
		<description>Moga aja hal itu tidak terjadi tapi hal sebaliknya akan membawa berkah dan hidayah.
Tapi guidenya udah punya kreatifitas apa belum?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Moga aja hal itu tidak terjadi tapi hal sebaliknya akan membawa berkah dan hidayah.<br />
Tapi guidenya udah punya kreatifitas apa belum?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Fenomena Kiss-Ass oleh Mardiani</title>
		<link>http://unlimitedtourism.wordpress.com/2009/02/11/kiss-ass/#comment-18</link>
		<dc:creator>Mardiani</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 01:12:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://unlimitedtourism.wordpress.com/?p=245#comment-18</guid>
		<description>Memang tulisan di sini gak bermutu tapi dalam dunia nyata, masih banyak teman2 guide yang tidak mau Kiss Ass tapi lebih pas di sebut CArMUK atau mungkin bahasa idiotnya, mereka bekerja tidak pakai Celana tapi pakai Kathok.
Mohon sadar dan kembali ke jalan yang benar karena saat ini udah tahun 2009....APA KATA DUNIA?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memang tulisan di sini gak bermutu tapi dalam dunia nyata, masih banyak teman2 guide yang tidak mau Kiss Ass tapi lebih pas di sebut CArMUK atau mungkin bahasa idiotnya, mereka bekerja tidak pakai Celana tapi pakai Kathok.<br />
Mohon sadar dan kembali ke jalan yang benar karena saat ini udah tahun 2009&#8230;.APA KATA DUNIA?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Kliping Koran tentang tour guide di Jogjakarta oleh Ponari</title>
		<link>http://unlimitedtourism.wordpress.com/2009/02/24/kliping-koran-tentang-tour-guide-di-jogjakarta/#comment-17</link>
		<dc:creator>Ponari</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 00:50:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://unlimitedtourism.wordpress.com/?p=330#comment-17</guid>
		<description>Salut dan sangat apresiasif sekali saat menbaca pernyataan ketua HPI Jogja yang baru dan semoga pernyataan anda bukan sebagai gebrakan atau abang2 lambe di saat anda terpilih tapi semoga bisa di jadikan tonggak awal kebangkitan Pramuwisata indonesia yang sepertinya hidup segan mati tak mau - Sulit untuk di jadikan sebagai pegangan/sandaran hidup untuk hari tua.
Tapi dalam benak saya, apa pola pikir semua para guide dari sabang sampai merauke apa sudah di cuci otaknya agar bener2 jadi profesional?
Yang banyak kita temui adalah banyaknya para pemandu yang lebih pas di sebut SEBAGAI PELACUR PARIWISATA ini karena tidak lepas dari ulah para pemandu yg menjajakan diri dgn di bayar murah untuk handle tamu suatu biro perjalanan pariwisata.
Bila anda memang menancapkan tonggak Reformasi di dunia Guiding, hendaknya yang perlu di benahi bukan management atau strukture kepengurusan yang kredible tapi benahilah mental dan rohani anggota HPI untuk menjadi profesional baik dalam bekerja dan bersifat.
Atau mungkin anda bisa mengajari atau mengadakan diklat IT untuk rekan2 agar lbh memahami dalam era globalisasi.
Emang Travel aja yang boleh cari tamu?
Alangkah baiknya memang Travel yang boleh mendatangkan tamu tapi tamu akan lebih nyaman bila bisa contact langsung dgn para pemandu karena hal ini bisa di dasari pengalaman lapangan yang lbh mumpuni dari tour operator kantoran.
Salam dari Anta beranta.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salut dan sangat apresiasif sekali saat menbaca pernyataan ketua HPI Jogja yang baru dan semoga pernyataan anda bukan sebagai gebrakan atau abang2 lambe di saat anda terpilih tapi semoga bisa di jadikan tonggak awal kebangkitan Pramuwisata indonesia yang sepertinya hidup segan mati tak mau &#8211; Sulit untuk di jadikan sebagai pegangan/sandaran hidup untuk hari tua.<br />
Tapi dalam benak saya, apa pola pikir semua para guide dari sabang sampai merauke apa sudah di cuci otaknya agar bener2 jadi profesional?<br />
Yang banyak kita temui adalah banyaknya para pemandu yang lebih pas di sebut SEBAGAI PELACUR PARIWISATA ini karena tidak lepas dari ulah para pemandu yg menjajakan diri dgn di bayar murah untuk handle tamu suatu biro perjalanan pariwisata.<br />
Bila anda memang menancapkan tonggak Reformasi di dunia Guiding, hendaknya yang perlu di benahi bukan management atau strukture kepengurusan yang kredible tapi benahilah mental dan rohani anggota HPI untuk menjadi profesional baik dalam bekerja dan bersifat.<br />
Atau mungkin anda bisa mengajari atau mengadakan diklat IT untuk rekan2 agar lbh memahami dalam era globalisasi.<br />
Emang Travel aja yang boleh cari tamu?<br />
Alangkah baiknya memang Travel yang boleh mendatangkan tamu tapi tamu akan lebih nyaman bila bisa contact langsung dgn para pemandu karena hal ini bisa di dasari pengalaman lapangan yang lbh mumpuni dari tour operator kantoran.<br />
Salam dari Anta beranta.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Fenomena Kiss-Ass oleh unlimitedtourism</title>
		<link>http://unlimitedtourism.wordpress.com/2009/02/11/kiss-ass/#comment-15</link>
		<dc:creator>unlimitedtourism</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 14:09:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://unlimitedtourism.wordpress.com/?p=245#comment-15</guid>
		<description>Anda salah tulisan ini memang sangat bermutu karana  kritik yang ditujukan hanya untuk sebagaian besar tour guide yang untuk mendapatkan order harus mengemis, ngemis , njilat , ngolor dan  memperolok-olok teman seprofesi. 
Bagi tour guide yang  bersaing secara profesional dengan prestasi, atau  pernah menjadi korban KISS-ASS action, tidak tersinggung, akan setuju atau minimal tidak memberi komentar dengan posting ini.
 Apabila  anda tidak setuju berarti anda pernah terlibat mempraktekan fenomena ini. Dari gambar sudah telihat tokoh yang memang ada dalam kenyataan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Anda salah tulisan ini memang sangat bermutu karana  kritik yang ditujukan hanya untuk sebagaian besar tour guide yang untuk mendapatkan order harus mengemis, ngemis , njilat , ngolor dan  memperolok-olok teman seprofesi.<br />
Bagi tour guide yang  bersaing secara profesional dengan prestasi, atau  pernah menjadi korban KISS-ASS action, tidak tersinggung, akan setuju atau minimal tidak memberi komentar dengan posting ini.<br />
 Apabila  anda tidak setuju berarti anda pernah terlibat mempraktekan fenomena ini. Dari gambar sudah telihat tokoh yang memang ada dalam kenyataan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Fenomena Kiss-Ass oleh mardiana</title>
		<link>http://unlimitedtourism.wordpress.com/2009/02/11/kiss-ass/#comment-14</link>
		<dc:creator>mardiana</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 09:10:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://unlimitedtourism.wordpress.com/?p=245#comment-14</guid>
		<description>tulisan tdk bermutu, melecehkan guide sendiri. hanya org BODOH yg mau melakukan kiss as</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tulisan tdk bermutu, melecehkan guide sendiri. hanya org BODOH yg mau melakukan kiss as</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Oleh-oleh dari luar negeri oleh kresno</title>
		<link>http://unlimitedtourism.wordpress.com/2009/01/18/oleh-oleh-dari-luar-negeri/#comment-13</link>
		<dc:creator>kresno</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 10:57:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://unlimitedtourism.wordpress.com/?p=90#comment-13</guid>
		<description>Ngalengka kae pariwisatane sukses kelewat-lewat merga sing dadi mentri pariwisatane mbakyu Sarpakenaka. Lambene weleeh..weleeh..nggedibel cemipok, susune kimplah-kimplah semruput, boncengane njedit cemokot. Lha arep dilorod dadekke ketua DPD HPI Ngayogya wae pa piye ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ngalengka kae pariwisatane sukses kelewat-lewat merga sing dadi mentri pariwisatane mbakyu Sarpakenaka. Lambene weleeh..weleeh..nggedibel cemipok, susune kimplah-kimplah semruput, boncengane njedit cemokot. Lha arep dilorod dadekke ketua DPD HPI Ngayogya wae pa piye ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Sang calon pemimpin oleh den bagus</title>
		<link>http://unlimitedtourism.wordpress.com/2009/01/31/sang-calon-pemimpin/#comment-11</link>
		<dc:creator>den bagus</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 14:52:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://unlimitedtourism.wordpress.com/?p=103#comment-11</guid>
		<description>betul sekali,saya sangat mendukung pencalonan mas Andy jerman,kacamata,mewakili divisi jerman, mas Andy tidak banyak guiding, karena punya aktivitas lain yg diandalkan utk meng cover daily expenses, nah spesifikasi macam ini, salah satu yg diperlukan oleh kalangan guide member,sehingga,mas Andy akan dgn leluasa menyuarakan aspirasi guide kepada,kaitanya biro yg mempekerjakannya,utk perbaikan fee,mas Andy tidak akan takut di black list, dan akan bisa tegas menghadapi kaum kapitalis maupun kepanjangan kapitalis eropa, seperti panorama dan pacto,yg sangat takut kehilangan clients regular mereka
mas Andi juga akan memberi darah segar dlm reformasi dan regenerasi , juga dari kalangan akademisi sehingga, pemikiranya ilmiah, dan persuasif, tidak kampungan ala pengurus terdahulu, yg masih seneng plesir ke menado dll,m,mas Andi juga berwawasan bagaimana memajukan organsasi tanpa harus menggantungkan terlalu banyak dgn biro
las but not least, diam diam mas Andy juga punya tamu sendiri yg diandalkan,kebanyakan dari belgia, condong ke arah ekoturism, gitu  jack..moga kawan kawan sependapat dgn saya
den bagus</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>betul sekali,saya sangat mendukung pencalonan mas Andy jerman,kacamata,mewakili divisi jerman, mas Andy tidak banyak guiding, karena punya aktivitas lain yg diandalkan utk meng cover daily expenses, nah spesifikasi macam ini, salah satu yg diperlukan oleh kalangan guide member,sehingga,mas Andy akan dgn leluasa menyuarakan aspirasi guide kepada,kaitanya biro yg mempekerjakannya,utk perbaikan fee,mas Andy tidak akan takut di black list, dan akan bisa tegas menghadapi kaum kapitalis maupun kepanjangan kapitalis eropa, seperti panorama dan pacto,yg sangat takut kehilangan clients regular mereka<br />
mas Andi juga akan memberi darah segar dlm reformasi dan regenerasi , juga dari kalangan akademisi sehingga, pemikiranya ilmiah, dan persuasif, tidak kampungan ala pengurus terdahulu, yg masih seneng plesir ke menado dll,m,mas Andi juga berwawasan bagaimana memajukan organsasi tanpa harus menggantungkan terlalu banyak dgn biro<br />
las but not least, diam diam mas Andy juga punya tamu sendiri yg diandalkan,kebanyakan dari belgia, condong ke arah ekoturism, gitu  jack..moga kawan kawan sependapat dgn saya<br />
den bagus</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Oleh-oleh dari luar negeri oleh Surya</title>
		<link>http://unlimitedtourism.wordpress.com/2009/01/18/oleh-oleh-dari-luar-negeri/#comment-9</link>
		<dc:creator>Surya</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 14:25:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://unlimitedtourism.wordpress.com/?p=90#comment-9</guid>
		<description>Gak nyagka klo nasib guide itu begitu tragis, mung cuma minta kenaikan Fee aja tidak di gubris. Nasib..nasib...
Promo wisata dengan dana ratusan juta dan jual tampang ratu2an itu saya rasa bukan sifat bangsa indonesia yang murah senyum dan bahkan senyum aja bisa jadi modal mendatangkan wisatawan tapi hal tsb merupakan sifat Indonesia raya yang sering memainkan anggaran demi kepentinan golongan dan paguyubannya. 
Meski promo Pariwisata dengan modal yang begitu wah.... sumpah mati gak akan bisa maju pariwisatanya jika kemunafikan yang berupa demo dan keonaran dalam negeri dongeng ini tidak di minimize. Capek deh..!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gak nyagka klo nasib guide itu begitu tragis, mung cuma minta kenaikan Fee aja tidak di gubris. Nasib..nasib&#8230;<br />
Promo wisata dengan dana ratusan juta dan jual tampang ratu2an itu saya rasa bukan sifat bangsa indonesia yang murah senyum dan bahkan senyum aja bisa jadi modal mendatangkan wisatawan tapi hal tsb merupakan sifat Indonesia raya yang sering memainkan anggaran demi kepentinan golongan dan paguyubannya.<br />
Meski promo Pariwisata dengan modal yang begitu wah&#8230;. sumpah mati gak akan bisa maju pariwisatanya jika kemunafikan yang berupa demo dan keonaran dalam negeri dongeng ini tidak di minimize. Capek deh..!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
